Berita - Universitas Muhammadiyah Surabaya

Artikel

MENJADI IBU DIMASA PANDEMI COVID-19

  • Di Publikasikan Pada: 16 Aug 2020
  • Oleh: Admin

Oleh: Supatmi, S.Kep. Ns., M.Kes*

 

Melahirkan di masa pandemi virus corona membawa kekhawatiran bagi sebagian besar ibu baru. Tidak ada yang bisa benar-benar mempersiapkan diri untuk jadi orang tua,  karena menjadi seorang ibu adalah pengalaman yang luar biasa.  Perubahan  emosi yang kompleks dari kegembiraan, kelelahan, cinta, dan kekhawatiran, semuanya bercampur menjadi satu. Menjadi seorang ibu berarti melakukan internalisasi dirinya sebagai seorang ibu (Mercer, 2004).  Seorang ibu dapat mengalami beberapa tingkat kesulitan yang sangat normal dan umum ketika dirinya membangun identitas baru sebagai seorang ibu (Mercer, 2004). Melakukan peran seorang ibu mengakui dirinya memiliki status sosial baru. Perempuan pasca salin /masa nifas  harus terbiasa: Menjalani kehidupan baru, Belajar keterampilan baru, Mengadopsi rutinitas baru. Perempuan membutuhkan transisi dalam konsep dirinya untuk bertanggung jawab terhadap bayinya yang tidak berdaya dan memasukkannya ke dalam konsep dirinya yang baru.

Transition to motherhood merupakan situasi krisis maturasi bagi perempuan pascasalin/masa nifas  Perlu adaptasi dengan peran menjadi ibu. Bagaimana jika  hal tersebut terjadi pada masa pandemic covid 19  yang mana terjadi  kece masan yang meningkat, ketidakpastian dan kondisi distrupsi, tidak terkecuali pada ibu masa nifas. Merasa tidak siap dan cenderung kurang percaya diri untuk merawat bayi mereka (memandikan, memegang atau memberikan ASI) dan mengalami isolasi sosial . Berbagai   pikiran ada dalam    benaknya  :    Ingin tahu kapan pandemi akan berakhir, kapan hidup bisa kembali normal ,  Khawatir tertular virus,   Khawatir penularan virus ke bayi ,  rumah sakit membatasi orang.  “ Ada  pertanyaan besar yaitu  seperti apa  menjadi ibu dimasa pandemic  covid 19 ?. Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini tentu kekhawatiran akan paparan virus makin tinggi. Terlebih lagi dengan adanya rekomendasi  jaga  jarak fisik, dapat memperburuk depresi dan mengurangi akses ke perawatan kesehatan dan dukungan sosial. Padahal, dukungan emosional merupakan salah satu yang dibutuhkan seorang ibu dalam membangun ketahanan dan mendorong pemulihan selama masa nifas ini.. Salah satu cara mengoptimalkan kesehatan mental bagi wanita yang depresi setelah melahirkan adalah dengan memprioritaskan perawatan diri.   Rutinitas  dengan fokus perawatan diri berdasarkan prinsip NEST-S (Nutrisi, Olahraga, Tidur, Waktu untuk Diri Sendiri, Dukungan). Nutrisi  : Asupan gizi yang tepat sangat penting bagi seorang ibu yang baru melahirkan. Mereka harus mencoba makan tiga kali sehari dan menyediakan berbagai makanan ringan untuk camilan. Menjaga tubuh terhidrasi juga dapat meningkatkan fungsi otak. Olahraga : Menyisihkan waktu untuk olehraga memang sulit, terlabih dengan adanya Si Kecil. Namun, coba untuk mengambil sedikit waktu luang untuk melakukan kegiatan ini. Olahraga dapat membantu memperbaiki suasana hati, mengisi energi, dan mengatasi masalah tidur. Tidak perlu berat, mulailah dengan berjalan di taman atau di depan rumah.  Tidur : Tidur yang baik juga penting. Tidur siang ketika bayi tidur siang, dan membagi tugas menyiapkan makan malam dengan pasangan dapat membantu. Mempertahankan rutinitas tidur, menghindari alkohol dan kafein di malam hari, dapat membantu. Waktu untuk Diri Sendiri : Studi menunjukkan ibu menghabiskan 164,5 jam seminggu untuk merawat sang buah hati. Bahkan, dalam kebanyakan kasus, mereka akan 'siap siaga' meski di tengah-tengah waktu tidur. Sehingga waktu di mana mereka tidak aktif hanya sekitar 30 menit sehari. Dengan adanya tuntutan ini, kesehatan mental yang baik dimulai dengan istirahat. Ini paing baik dihabiskan untuk bersantai atau melakukan kegiatan menyenangkan, seperti membaca dan berjalan.Teknik pernapasan juga dapat dipelajari untuk mengelola stress. Dukungan : Dalam hal ini, pasangan sangat berperan besar dengan memberikan bantuan praktis. Misalnya menyiapkan makan malam, dan membantu melakukan pekerjaan rumah tangga. Selain itu, dukung sang istri dengan mendengarkan mereka. Hal ini dapat menjadi terapi bagi sang istri  yang  menjadi ibu baru pada masa pandemi covid -19 saat ini

 

*Dosen Keperawatan Maternitas, Program Studi Ilmu Keperawatan FIK Universitas Muhammadiyah Surabaya