Berita - Universitas Muhammadiyah Surabaya

Artikel

EROSI LOYALITAS WARGA MUHAMMADIYAH DI TENGAH PANDEMI COVID-19

  • Di Publikasikan Pada: 16 Aug 2020
  • Oleh: Admin

Oleh : Dr. Sholikhul Huda,M.Fil.I *


"Sang Surya Telah Bersinar Syahadat Dua Melingkar Warna Yang Hijau Berseri Membuatku Rela Hati. Ya Allah Tuhan Rabbiku Muhammad Junjunganku, Al Islam Agamaku Muhammadiyah Gerakanku. Di ufuk Timur Fajar Gemerlapan Mengusik Kabut Hitam Mengugah Kaum Muslimin Tinggalkan Peraduan Lihatlah Matahari Telah Tinggi Di Ufuk Timur Sana, Seruan Ilahi Rabbi Sami'an Wa Atha'na".

Bait ini adalah Mars Muhammadiyah yang selalu di kumandangkan pada saat kegiatan warga Muhammadiyah. Hal ini dilakukan dengan tujuan sebagai bagian dari internalisasi ideologi Muhammadiyah dalam rangka untuk selalu mensyiarkan agenda dakwah, memupuk kecintaan, membangun ketaatan, kepatuhan dan kedisiplinan organisasi , sehingga terbangun komitmen ideologi dan loyalitas Warga dan Pimpinan Muhammadiyah dalam melaksanakan dan menyukseskan agenda dakwah dan program perjuangan  Muhammadiyah di masyarakat.

Ada istilah menarik di bait terakhir Mars Muhammadiyah yaitu kata "Sami'na Wa Atha'na" (Artinya: saya mendengarkan dan saya taat-patuh). Makna dari kata tersebut adalah sebuah komitmen berideologi Muhammadiyah, kedisiplinan berorganisasi dan ketaatan kepada pimpinan persyarikatan Muhammadiyah secara rasional-bertangungjawab.

Maksud "Saya mendengarkan" artinya saya warga & Pimpinan Muhammadiyah, selalu memperhatikan, menjalankan semua agenda dan program persyarikatan Muhammadiyah yang sudah disepakati secara musyawarah organisasi dengan penuh amanah dan tanggungjawab. Sementara makna "Saya taat" artinya saya warga dan Pimpinan Muhammadiyah, komitmen berideologi Muhammadiyah, patuh terhadap semua program dan agenda persyarikatan Muhammadiyah yang sudah di putuskan dan di sepakati bersama melalui musyawarah oleh Pimpinan Muhammadiyah secara rasional dan bertangungjawab.

Namun, yang menjadi persoalan di lapangan adalah, apakah konsep "Sami'na Wa atha'na" ini masih di pegang teguh dalam tradisi berMuhammadiyah? Berdasarkan realitas di lapangan, akhir-akhir ini tradisi "Sami'na Wa Atha'na" tersebut mulai memudar di kalangan warga maupun pimpinan persyarikatan di beberapa level kepemimpinan, bahkan ada yang mengatakan dengan istilah "pembangkangan" terhadap organisasi.

Fenomena mempudarnya tradisi "Sami'na Wa Atha'na" di Muhammadiyah, memang sedang terjadi, terutama di kalangan grass root Muhammadiyah, terutama di era Pandemi Covid-19.

Indikasi memudarnya tradisi tersebut, adalah tampak di saat beberapa warga dan Pimpinan Muhammadiyah di beberapa level (Daerah, Cabang, Ranting) menolak, menentang dan tidak mengindahkan terhadap Maklumat PP Muhammadiyah dalam bentuk Surat Edaran  05/EDR/I.0/E/2020 terkait Anjuran Sholat Jum'at, Sholat Rawathib Berjamah dan Sholat Idul Fitri di Rumah di saat pandemi Covid-19. Namun, mereka tetap kekeh, bersikeras menjalankan semua ritual tersebut dengan beragam alasan bahkan ada yang lebih mengikuti anjuran atau maklumat dari organisasi lain Muhammadiyah, padahal mereka adalah Pimpinan dan Pengurus Masjid Muhammadiyah.

Adapun keputusan organisasi (Maklumat) tersebut merupakan bagian dari salah satu ikhitiar Muhammadiyah dalam rangka untuk menyelamatkan manusia dari penularan virus Covid-19 yang sedang melanda dan menjadi pandemi di masyarakat.

Keputusan (Maklumat) tersebut tentu bukan sekedar keputusan tanpa pertimbangan atau ngawur, tetapi pertimbangan mendalam  berdasarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan (Ilmu Kesehatan-Kedokteran) yang memilki otoritas terkait keilmuan virus. Maklumat dikeluarkan  dengan tujuan demi menjaga kemaslahatan masyarakat Indonesia, terutama warga Muhammadiyah dengan prinsip maqhosid syariah "al-khifdu an-nafs" (menjaga keselamatan jiwa manusia harus di utamakan dahulu) dan prinsip "dar'ul mafashid" yaitu mencegah kerusakan atau kematian harus di dahulukan.

Fenomena penolakan, apatisme, pembangkangan warga dan Pimpinan Muhammadiyah di atas dapat disebut sebagai "Erosi Loyalitas" Warga dan Pimpinan Muhammadiyah" di era Pandemi Covid,-19.

Erosi Loyalitas adalah sebuah ketidaktaatan dan kepatuhan terhadap kebijakan atau keputusan organisasi akibat dari ketidaksiplinan berorganisasi yang disebabkan melemahnya komitmen ideologi BerMuhammadiyah. Yang menjadi persoalannya adalah ada apa dan mengapa "Erosi Loyalitas" warga dan pimpinan ini bisa terjadi di Muhammadiyah?menurut hemat penulis, fenomena ini terjadi disebabkan ada dua faktor:

 

Pertama, faktor masifnya arus informasi melalui media sosial ( medsos) yang diserap dan masuk secara bebas menembus batas hingga ke ruang privat warga dan pimpinan Muhammadiyah. Masifitas informasi tersebut terkait apa saja termasuk informasi sosial-keagamaan (keislaman) yang berasal dari beragam sumber, termasuk berasal dari kelompok keagamaan selain Muhammadiyah. Artinya saat ini informasi terkait persoalan sosial keagamaan yang diputuskan dan dikelurakan oleh Muhammadiyah sudah tidak menjadi arus utama sebagai sumber pemikiran dan perilaku sosial keagamaan bagi warga dan pimpinan Muhammadiyah. Sehingga, mereka saat ini memiliki banyak alternatif sumber informasi sosial keagamaan dari berbagai aliran dan kelompok keagamaan lain semisal kelompok keagamaan HTI, Salafi, FPI, MMI, Wahabi dan sebagainya. Situasi ini menjadikan paham ideologi dan sikap keagamaan Muhammadiyah tidak lagi jadi arus utama bagi mereka. Sehingga, berdampak terhadap sikap berorganisasi yang kurang mendengarkan dan patuh atau "Sami'na wa Atha'na" terhadap kesepakatan dan keputusan organisasi yang merupakan hasil musyawarah Pimpinan Muhammadiyah di atasnya (PP Muhammadiyah). Meskipun asumsi ini perlu riset pembuktian lebih lanjut.

Kedua, faktor terjadinya "erosi loyalitas" warga dan pimpinan Muhammadiyah adalah disebabkan adanya upaya infiltrasi "ideologi lain" ke Muhammadiyah. Infiltrasi ideologi adalah suatu upaya penyusupan sebuah paham pemikiran keagamaan, politik, sosial, budaya yang dibawah oleh seseorang atau kelompok kepada seseorang atau kelompok lain dengan tujuan untuk menghancurkan kekuatan paham/pemikiran lawan dengan tanpa di sadarinya.Tujuan dari infiltrasi ideologi adalah menginginkan adanya pelemahan, pergeseran yang muaranya adalah pada pergantian paham pemikiran (ideologi,) awal ke paham/pemikiran (ideologi) lain. Adapun istilah "ideologi lain" disebutkan dari berbagai riset yang dilakukan oleh akademisi adalah ideologi salafi (MurSal: Muhammadiyah Rasa Salafi), ideologi FPI ( MuFi: Muhammadiyah Rasa FPI), ideologi HTI (MuHti: Muhammadiyah Rasa HTI). Adapun secara karakter ideologi dan manhaj dakwah kelompok tersebut sangat berbeda dengan paham Muhammadiyah. Paham keagamaan mereka cenderung tekstualis, tertutup/eksklusif, cenderung formalistik dan sebagainya, sementara paham keagamaan Muhammadiyah lebih ijtihadi, inklusif, terbuka/inklusif dan moderat.

Oleh para pemikir kelompok ideologi di atas akhir-akhir ini dianggap sangat terasa menggangu konsolidasi paham keagamaan dan keorganisasian Muhammadiyah. Selain itu infiltrasi ideologi di atas berdampak pula terhadap terjadinya pelemahan ideologi Muhammadiyah yang kemudian berlanjut terhadap demilitansi, pembangkan dan ketidakpatuhan terhadap kebijakan atau keputusan yang dibuat atau dikeluarkan Pimpinan organisasi Muhammadiyah, sehingga munculah "erosi loyalitas" ditubuh pimpinan dan warga Muhammadiyah. Melihat fenomena tersebut maka  diharapkan semua pimpinan dan warga Muhammadiyah untuk kembali meraptakn dan meluruskan "shof" ideologi dan beroganisasi sesuai Manhaj Muhammadiyah.



(Kepala Pusat Pengkajian Al Islam Kemuhammadiyaha (PPAIK) UMSurabaya)