Berita - Universitas Muhammadiyah Surabaya

Artikel

DUA APLIKASI CUKUP UNTUK PEMBELAJARAN DI MASA COVID-19

  • Di Publikasikan Pada: 10 Jun 2020
  • Oleh: Admin

Hal yang dikeluhkan mahasiswa selama perkuliahan di masa Pandemi adalah pulsa dan tugas. Namun kali ini saya hanya akan membahas tentang pulsa. Untuk kasus ini ternyata mahasiswa mengeluh tidak hanya karena harus daring dalam berkuliah tapi juga harus mengunduh banyak aplikasi pembelajaran. Hal yang mungkin jarang terpikirkan bahwa ternyata perbedaan penggunaan aplikasi dalam pembelajaran membuat mahasiswa terbebani. Karena instal aplikasi butuh kuota internet yang lumayan. Anggap saja dalam semester ini mahasiswa mengambil 22 sks yang kemudian menjadi 9 mata kuliah. Jika setiap dosen menggunakan aplikasi yang berbeda, mahasiswa harus mengunduh 9 aplikasi. Misal saja harus unduh zoom, google meet, google classroom, Microsoft Teams atau office 365 education, Edmodo, kahoot, quizizz, moodle, telegram, atau lainnya.

Tidak hanya kuota internet, banyaknya aplikasi yang harus diunduh ini juga berakibat pada memori dan kecepatan hp yang semakin berkurang. Banyak mahasiswa yang memiliki HP yang lebih canggih dengan memori besar melebihi dosennya, namun banyak juga mahasiswa yang memiliki HP dengan kapasitas sangat standar dengan memori yang terbatas. Akibatnya, untuk menggunakan aplikasi-aplikasi ini dan untuk dapat mengikuti kegiatan perkuliahan, bisa jadi mahasiswa harus menghapus sebagian aplikasinya dan mengunduhnya kembali saat aplikasi tersebut digunakan lagi. Dengan banyaknya aplikasi, tentu juga akan membuat HP semakin lemot sehingga proses perkulihan dan pengumpulan tugas menjadi terhambat. Belum lagi masalah susah sinyal karena mahasiswa sudah kembali ke kampung halamannya yang untuk mendapatkan sinyal mereka harus berada di halaman rumah. Dengan kondisi di luar rumah ini tentu perlu dipertimbangkan juga kapasitas batre mahasiswa. Tentu ini berdampak pada HP yang batrenya sering drop apalagi dengan penggunaan aplikasi yang menyedot banyak energi seperti zoom. Jika tidak dalam masa pandemi, hal ini tentu tidak akan terjadi karena mahasiswa bisa mendapatkan internet geratis melalui wifi kampus, McDonald, warung kopi, atau kafe-kafe lainnya yang menyediakan fasilitas gratis wifi.

Disinilah perlu adanya koordinasi untuk menentukan aplikasi mana yang perlu digunakan mahsiswa untuk setiap angkatannya. Sehingga hasil dari efektifitas penggunaan setiap aplikasi masih dapat terekam. Seandainya dijadikan bahan penelitian untuk setiap aplikasi juga masih dapat dilakukan. Kreatifitas kita sebagai dosen dalam merancang pembelajaran dengan berbagai macam aplikasi juga tetap bisa tersalurkan. Namun, memang perlu koordinasi, kerjasama, pengertian, kelapangan hati, dan kesabaran.

Lalu aplikasi apa saja yang menurut mahasiswa efektif? Ternyata hasil survey mengatakan bahwa mahasiswa merasa efektif belajar dengan aplikasi e-learning kampus dan grup wa. Alasan mahasiswa sederhana, yaitu karena sudah terbiasa dengan kedua aplikasi tersebut sehingga sudah memahami fitur-fitur di dalamnya, tidak perlu unduh lagi, dan yang pasti tidak menyedot banyak kuota internet. Detail tentang hasil survey dan wawancara ini, mohon menunggu artikel saya di jurnal terbit ya…  

Nah, untuk memaksimalkan dua aplikasi ini tentu perlu strategi juga. Salah satu keluhan mahasiswa karena tidak bisa bertatap muka dan bertanya secara langsung di kelas adalah slow respon dalam menanggapi diskusi, baik melalui WA maupun forum diskusi e-learning kampus sehingga diskusi menjadi garing dan sepi. Hal itu dapat disiasati dengan disepakatinya jadwal fast respons. Artinya, dosen dan mahasiswa harus berinteraksi atau berdiskusi layaknya di kampus sesuai jdwal perkulihan melalui forum diskusi dan dapat dilanjutkan di luar jam namun tentu respons dari dosen dan mahasiswa lain tidak bisa cepat karena tentu ada pekerjaan lain yang menanti. Jika e-learning down, dapat dibantu dengan grup wa. Namun mahsiswa harus tetap mengungah ulang salah satu pertanyaan atau jawabnnya di grup wa pada sistem e-learning kampus agar penilaian secara sistem tetap bisa dilakukan. Sehingga, saat dosen eksport nilai dari sistem, semua jawaban yang telah ternilai tetap dapat terekap dengan baik.

 

Penulis: Idhoofiyatul Fatin

Dosen FKIP UMSurabaya