Berita - Universitas Muhammadiyah Surabaya

Artikel

Belajar Pengelolaan Pendidikan Vokasi dari TAFE

  • Di Publikasikan Pada: 27 Mar 2018
  • Oleh: Admin

Melbourne, Februari, 12, 2018. Rektor dan wakil rektor 1 Universitas Muhammadiyah Surabaya bersama 31 Delegasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah Indonesia dalam acara Delegation of Senior Foundation officials and Institutional Leaders tanggal 12-18 Februari 2018.  Hari pertama berkesempatan berkunjung ke Chadstone and Moorabbin Campuses, diterima langsung oleh Ms Marry Faraone sebagai Chief Executive dan Mr David Saunders Executive Director International Education and Business Develpment  di Conference Centre Seminar room.  Marry dan David menyampaian berbagai hal terkait tentang pengelolaan program Technical and Further education (TAFE)  yang ada di Australia atau semacam pengelolaan pendidikan vokasional, atau serupa politeknik di Holmesglen.  Pendidikan vokasi yang dijalankan di negara Kanguru tersebut dilaksanakan dengan membangun sinergi dengan industri dan peran pemerintah dalam program pendidikan vokasi.

Rektor dan Wakil Rektor 1 UMSurabaya sedang berfoto dengan Delegasi PTM indonesia di  Melbourne

Mahasiswa diajarkan secara langsung seperti mereka bekerja di Industri, diakhir study mereka mendapatkan sertifikasi yang dapat digunakan untuk bekerja, yang mengacu pada Australian Qualification Framework (AQF) atau semacam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), dengan 10 level diantaraya Level 1. Certificate 1, Level 2. Certificate II, Level 3. Certificate III, Level 4. Certificate 4, Level 5. Diploma, Level 6 advanced diploma, associate degree, Level 7 Bachelor degree, Level 8 bachelor honours degree, garduate certficate, graduate diploma, level 9 masters degree dan level 10 doctoral degree.

Selain itu program riset yang dijalankan di Holmesglen juga dilakukan sebagai riset kolaborasi antara industri, masyarakat lokal dan pemerintah yang berorientasi pada pengembangan kursus, kesiapan bekerja dan peningkatan kualitas pada industri dan pendidikan, kata Dr. Henry Pook (a3h).