Artikel

Fenomena Super Blood Moon, FAI UMSurabaya Adakan Edukasi Astronomi

  • Di Publikasikan Pada: 26 May 2021
  • Oleh: Admin

Pekan ini menjadi pekan fenomena astronomi bagi masyarakat, khususnya Prodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya. Pengamatan gerhana bulan dilaksanakan pada (26/05/2021) pukul 17.30 sampai selesai. Gerhana bulan kali ini disebut sebagai “Super Blood Moon”, yakni gabungan antara Supermoon dan Bloodmoon.

Supermoon adalah istilah ketika bulan purnama berada pada titik terdekatnya dengan bumi atau titik perigee, yakni berjarak sekitar 357.462 kilometer dari bumi. Sementara saat berada pada titik terjauh atau apogee, bulan berjarak 407.000 kilometer dari bumi. Karenanya bulan pada saat supermoon akan terlihat 14% lebih besar dan 30% lebih cerah daripada purnama saat jarak terjauhnya.

Bertempat di Rooftop Gedung At-Tauhid Tower lantai 4, Prodi Hukum keluarga Islam UMSurabaya melakukan sholat gerhana dan edukasi astronomi, pengamatan dilakukan dengan menggunakan bantuan teleskop. Meskipun dapat dilihat dengan mata, namun alat bantu berupa teleskop disiapkan agar dapat melihat bentuk bulan dengan lebih jelas.

Materi yang didapatkan antara lain berupa pembelajaran fase gerhana serta seni memotret keindahan langit. Pengajar Astronomi UMSurabaya, Andi Sitti Mariyam mengatakan bahwa secara astronomis proses terjadinya gerhana mematahkan isu yang menyatakan bahwa bumi itu datar. “Pada saat bayangan bulan masuk maupun mulai keluar dari bagian umbra, terlihat bayangan bumi membentuk lengkungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa bumi itu tidak datar”, ungkapnya.

Lebih lanjut lagi, Menanggapi berita yang beredar tentang kemungkinan banjir rob (banjir yang berasal dari air laut) saat gerhana nanti malam, Andi Sitti Mariyam berpendapat bahwa pada dasarnya peredaran bulan mengelilingi bumi menimbulkan efek pasang surut, di setiap purnama memang akan terjadi pasang dan mungkin banjir rob untuk wilayah yang rendah atau pesisir.

Jadi peristiwa banjir rob tidak secara khusus diwaspadai akan terjadi pada saat gerhana saja, namun setiap purnama.”Sedangkan mahasiswa yang ikut mengamati proses terjadinya gerhana mengungkapkan bahwa proses pengamatan gerhana bulan kali ini terkendala cuaca yang mengakibatkan gerhana tertutup dengan awan sehingga tidak bisa menyaksikan gerhana secara jelas.

Ketua Prodi Hukum Keluarga Islam, Mohammad Ikhwanuddin menegaskan bahwa proses terjadinya gerhana merupakan sebuah fenomena alam yang tidak berkaitan dengan mitos apapun. “Gerhana adalah sunnatullah. Tidak ada hubungannya dengan kematian maupun kelahiran seseorang, bencana alam, maupun mitos yang diyakini masyarakat seperti ditelannya bulan oleh raksasa atau buto ijo”, kelakarnya.

Tambah lagi Ikhwanuddin menjelaskan “Karena masih dalam suasana pandemi serta mahasiswa berada di rumah, maka proses pengukuran arah kiblat dilakukan di rumah masing-masing mahasiswa. Namun demikian, mahasiswa wajib melaporkan hasilnya. Ini sebagai wujud bahwa ilmu falak bukan hanya sekedar ilmu teoritis, namun juga dapat dipraktekkan secara langsung dengan cara yang sederhana, asyik dan menyenangkan”, kata Ikhwanuddin.