compact logo                                                                                                                                                                               compact logo    English

Tes Golongan Darah dan Rhesus Kian Mudah

Date Post : 2017-04-28 10:40:47

SURABAYA (BM) – Transfusi darah tidak bisa dilakukan sembarangan. Maka dari itu, pengecekan golongan darah dan rhesus begitu penting dilakukan. Bila tidak sesuai golongan darah, penggumpalan darah cepat terjadi pada tubuh. Resiko paling fatal adalah kematian. Sama halnya jika rhesus darah diberikan tidak sesuai.
 
Rhesus manusia terbagi menjadi positif dan negatif. Orang Asia cenderung memiliki rhesus positif. Sayangnya, pemeriksaan golongan darah dan rhesus selama ini masih dilakukan secara manual. Yaitu dengan memakai kaca sampel dan meneteskan reagen atau cairan penguji secara manual. Sehingga tidak efektif jika dilakukan pada seseorang yang membutuhkan transfusi darurat.
 
Lima mahasiswa semester 2 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya kemudian berinovasi dengan membuat alat pengecek golongan dan rhesus darah secara cepat. Mereka yaitu, Satria Manggala Liastra, Aisyah Fadhilah, Lina Nur Hidayaturrohmah, M Thoriq Satria Dinata, dan Angga Dimas.
 
“Alat ini kami namakan Goldarhes, dengan alat ini pengecekan darah akan lebih akurat. Jadi bisa meminimalkan kematian yang disebabkan oleh kelalaian PMI. Sebab data survei tahun 2016 ada sekitar 1,4 juta orang meninggal karena kelalaian dalam transfusi,” jelas Ketua Tim Kelompok Satria Manggala, Kamis (27/4).
 
Dia menjelaskan, alat ini bisa memberikan hasil tes darah dengan hanya meletakkan sampel darah pada 4 wadah yang berada dalam kotak Goldarhes. Kotak Goldarhes yang berukuran sekitar 30 x 10 sentimeter ini terdiri dari 3 ruang. Wadah peletakan sampel darah ini berada pada ruang alat yang pertama untuk kemudian ditetesi reagen pengujinya.
 
“Reagennya ada anti A, anti B, anti AB dan anti D. Untuk anti A, B dan AB ini untuk menentukan golongan darah dilihat dari penggumpalannya. Kemudian untuk reagen D untuk penguji jenis rhesus darah,” terangnya.
 
Setelah itu, sampel akan bergeser ke ruang kedua sebagai procesing. Yaitu dilakukan pengadukan dan pembacaan intensitas cahaya dari penggumpalan dengan sensor. Untuk rhesus, pembacaan dilakukan dengan intensitas cahaya gumpalan, jika gumpalan semakin banyak maka intensitas cahaya semakin tinggi dan berarti golongan darah tersebut memiliki rhesus negatif. 
 
"Saat ini kami masih meggunakan pengadukan manual. Nanti akan kami modifikasi lagi agar bisa secara otomatis mengaduk,” tambah Aisyah.
 
Alat ini semakin menarik karena data bisa terbaca oleh LCD yang diletakkan pada ruang ketiga alat ini. LCD ini juga disinkronkan dengan aplikasi android sehingga bisa tersimpan sebagai riwayat pengecekan darah.
 
Aisyah menjelaskan, karyanya bersama teman-temannya ini berhasil menjuarai Produk Inovasi Mahasiswa (PIM) yang dilombakan tingkat universitas. Sehingga mereka mendapat kesempatan untuk mengurus hak paten karyanya. Dengan begitu, inovasi tersebut tidak hanya diakui tingkat universitas tetapi bisa dikenal masyarakat ataupun diproduksi massal.
 
 "Alat ini dibuat dengan bentuk yang kecil. Tujuannya agar praktis dibawa saat keadaan darurat klinis atau disimpan di rumah," jelasnya.
 
Lina menambahkan, perjuangannya bersama teman-temannya tak mudah. Dengan jadwal kuliah yang padat di semester awal, dia dan teman-temannya harus pandai-pandai membagi waktu untuk membuat alat tersebut. "Ini perpaduan teknik dan medis, jadi kami juga harus belajar lagi tentang teknik dan sistem aplikasinya," pungkasnya. (sdp/nii)
Sumber : Berita Metro